MAKALAH ABRASI PANTAI





Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa. Yang dengan limpahan rahmat, dan hidayah-Nya, sehingga makalah ini bisa terselesaikan.
Dalam penyelesaian tugas ini saya telah banyak mendapat dukungan dan bantuan dari segala pihak baik moral maupun materi. Oleh karena itu, saya menyampaikan banyak terimakasih kepada:
1.      Ibu Aci selaku guru mata pelajaran Geografi
2.      Orang tua saya yang selalu memberi dukungan moral dan materi
3.      Teman-teman yang selalu mendukung dan memberi kritikan yang membangun
Saya berharap makalah ini bisa bermanfaat dan bisa memberikan hal yang positif khususnya bagi para pembaca.
Saya menyadari bahwa dalam penyelesaian makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan demi perbaikan tugas-tugas selanjutnya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Meukek, 11 Oktober 2015

Penyusun


Kelompok III














BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan tentunya tidak lepas dari garis pantai, Indonesia sendiri memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia setelah Kanada, Amerika Serikat dan Rusia dengan panjang garis pantai 95.181km.
Namun sebanyak 20% dari garis pantai di  sepanjang wilayah Indonesia dilaporkan mengalami kerusakan, tentunya kerusakan ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain perubahan lingkungan dan abrasi pantai.
Kerusakan lingkungan akan semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Contoh yang sering kita jumpai belakangan ini adalah masalah abrasi pantai.  Abrasi pantai ini terjadi hampir diseluruh wilayah di Indonesia.  Masalah ini harus segera diatasi karena dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi makhluk hidup dan ekosistem, tidak terkecuali manusia.
Abrasi pantai tidak hanya membuat garis-garis pantai menjadi semakin menyempit, tapi bila dibiarkan begitu saja akibatnya bisa menjadi lebih berbahaya.  Seperti kita ketahui, negara kita Indonesia sangat terkenal dengan keindahan pantainya.  Setiap tahun banyak wisatawan dari mancanegara berdatangan ke Indonesia untuk menikmati panorama pantainya yang sangat indah.  Apabila pantai sudah mengalami abrasi, maka tidak akan ada lagi wisatawan yang datang untuk mengunjunginya.  Hal ini tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi perekonomian di Indonesia karena secara otomatis devisa negara dari sektor pariwisata akan mengalami penurunan. 
Demikian juga dengan pemukiman penduduk yang berada di areal sekitar pantai tersebut.  Banyak penduduk yang akan kehilangan tempat tinggalnya akibat rumah mereka terkena dampak dari abrasi.
Di Indramayu, luas areal pantai yang terabrasi lebih dari 2000ha, tersebar di 7 kecamatan dan 28 desa, dengan tingkat abrasi mencapai 10m pertahun.
Abrasi pantai akibat kerusakan ekosistem di kawasan pesisir pantai utara Indramayu cukup parah dan merata. Sepanjang 114 kilometer daerah tersebut mengalami kerusakan kritis. Pesisir pantai telah tergerus sejauh 45 km dari garis pantai. Pihak Pemkab Indramayu dan Pemprov Jabar telah terus berupaya dengan melakukan penanaman bakau serta membangun pemecah gelombang di sejumlah wilayah. Namun bangunan pemecah gelombang ini pun belum optimal untuk mengurangi abrasi.
Selain mengalami abrasi, puluhan hektar hutan bakau di kawasan pantai Indramayu tersebut kini sebagian besar beralih fungsi menjadi tambak-tambak udang dan bandeng. Bahkan masyarakat pengelola tambak merasa dirugikan dengan keberadaan mangrove di sekitar tambak, yang dianggap menggangu luasan tambak mereka itu.

Pantai Tirtamaya di Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Indramayu termasuk salah satu obyek wi-sata yang relatif lebih dikenal masyarakat luas, dibandingkan obyek wisata pantai lainnya yangt ada di Indramayu. Maklum, obyek Wisata Tirtamaya ini sejak dulu sudah dikelola Pemkab Indramayu melalui Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga.

Hanya saja dalam perjalanannya, obyek wisata Tirtamaya yang letaknya sekitar 15 km arah Timur Kota Indramayu yang bersebelahan dengan Pantai Glayem ini nampaknya kurang beruntung. Hal itu disebabkan karena Tirtamaya sejak dekade 90-an terkena bencana alam abrasi atau pengikisan pantai akibat ombak laut.

Sebagian besar lahan yang menjadi bagian dari obyek wisata Tirtamaya itu, sudah berubah bentuk menjadi laut. Sejumlah fasilitas wisata berantakan. Puluhan pohon peneduh pun satu persatu bertumbangan karena akarnya tergerus ombak laut

B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat saya rumuskan beberapa rumusan masalah, antara lain :
1)     Bagaimanakah penyebab terjadinya abrasi di pantai Tirtamaya?
2)     Apakah solusi yang tepat untuk mencegah meluasnya abrasi yang ada di Pantai Tirtamaya?
    







































BAB II
PEMBAHASAN

A. Kajian Teoritis
1.   Pengertian Pantai
Pantai disebut sebagai daerah tepi perairan yang berada diantara surut terendah dan pasang tertinggi. Daerah sekitarnya itu disebut sebagai daerah pesisir pantai yang ditandai dengan pengaruh dari darat dan laut (Prasetya et al., 1993; Romimohtarto dan Juwana, 2001). Bagian yang memisahkan laut dan darat memiliki pola yang berbentuk garis berliku atau lurus, bagian itu kenal sebagai garis pantai (Horikawa, 1988). Jika pantai dianggap sebagai sebuah kawasan yang masih mendapat pengaruh air laut, maka di dalam kawasan tersebut adalah pembagaian tersendiri secara spesifik. Menurut Sastroprawiro (1992) ada tiga bagian utama pantai, yakni :
a) Beach (daerah pantai)
Daerah yang langsung mendapat pengaruh air laut
dan selalu dapat dicapai oleh pasang naik dan pasang surut.
b) Shoreline (garis pantai). Jalur pemisah yang relatif berbentuk baris dan
relatif merupakan batas antara daerah yanmg dapat dicapai air laut dan
yang tidak bisa.
c) Coast (pantai, pesisir). Daerah yang berdekatan dengan laut dan masih
mendapat pengaruh dari air laut.
   
Selanjutnya dikatakan juga bahwa pantai selalu mengalami perubahan bentuk secara kontinu, perubahan yang terjadi berada dalam satuan skala waktu atau time scale (kisaran perubahan dari waktu geologi untuk periode tunggal dari gelombang yang disebabkan oleh angin atau perubahan dalam kisaran musim tertentu) dan skala ruang atau spatial scale
(pada kisaran pantai atau kawasan tertentu dengan panjang yang berbeda atau bisa juga dalam sebuah region). Menurut Triatmodjo (1999) perubahan bentuk dan garis pantai merupakan respons dinamis alami pantai terhadap laut. Apabila proses ini berlangsung secara terus-menerus tanpa ada faktor penghambat, maka proses pengikisan akan berlanjut. Dalam skala waktu, luas daratan, besaran energi eksternal dan daya tahan material penyusun pantai akan menentukan apakah pantai tersebut akan hilang atau tenggelam (Diposaptono, 2004). Hantoro (2006) menyatakan bahwa perubahan garis pantai bergeser seiring perubahan paras muka laut, pergeseran tersebut dapat terjadi oleh susutnya permukaan air laut atau gerak vertikal dari darat (proses tektonik, dll). Sementara itu, perubahan paras laut disebabkan oleh berubahnya volume air atau berubahnya volume cekungan samudera.

2.   Bentuk Pantai
Ada banyak bentuk pantai. Pembagainnya dapat didasarkan pada berbagai komponen. Berdasarkan materi penyusun pantai (Triatmodjo, 1999 dan Diposaptono, 2004), diantaranya:
a)    Pantai berbatu
Dinding pantainya terjal yang langsung berhubungan dengan laut dan sangat dipangaruhi oleh serangan gelombang. Biasanya tidak mudah tererosi akibat adanya arus atau gempuran gelombang. Kalaupun ada lebih banyak disebabkan oleh pelapukan batuan atau proses geologi lain dalam waktu yang relatif lama. Erosi pada material masif (seperti batu atau karang) ini lebih dikenal dengan nama abrasi
b)    Pantai berpasir
Pantai tipe ini terbentuk oleh proses di laut akibat erosi gelombang, pengendapan sedimen, dan material organik. Material penyusun terdiri atas pasir bercampur batu yang berasal dari daratan yang terbawa aliran sungai atau berasal dari daratan di belakang pantai tersebut. Di samping berasal dari daratan, material penyusun pantai ini juga dapat berasal dari berbagai jenis biota laut yang ada di daerah pantai itu sendiri.
c)    Pantai berlumpur
Pantai berlumpur yang banyak dijumpai di muara sungai yang ditumbuhi oleh hutan mangrove, energi gelombang erdisipasi oleh hutan mangrove dan lumpur. Pantai tipe ini relatif mudah berubah bentuk, mengalami deformasi, dan tererosi.

3.   Garis Pantai
Bagian pantai yang berbentuk garis dan menjadi arah batas antara laut dan darat secara jelas disebut sebagai garis pantai (Shalowitz, 1964 dalamSaptarini, 2000). Menurut Hermanto (1986) keberadaan garis pantai selalu mengalami perubahan secara kontinu, pada pantai yang berhadap langsung dengan arah datang gelombang dan arus pantai selalu mengalami abrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pantai yang letaknya sejajar atau searah dengan arah datangnya gelombang. Garis pantai terbagi atas dua kelompok besar yang dipengaruhi oleh gerakan tektonik, gerakan eustatik dan kombinasi kedua gerakan tersebut (Bird, 1970 dalam Hermanto, 1986) :
• Garis pantai naik. Garis pantai yang mengalami pengangkatan dan
biasanya lurus dan datar, disebabkan karena daratan mengalami
pengangkatan.
• Garis pantai turun. Garis pantai yang mengalami penurunan, biasanya
memiliki bentuk yang tidak lurus dan disebabkan daratan
mengalami penurunan.

4.   Gelombang
Gelombang adalah peristiwa naik-turunnya muka laut. Proses ini terjadi akibat adanya gaya-gaya alam yang bekerja di laut seperti tekanan atau tekanan dari atmosfir (khususnya melalui angin), gempa bumi, gaya gravitasi bumi dan benda-benda angkasa (bulan dan matahari), gaya coriolis (akibat rotasi bumi), dan tegangan permukaan (Sorensen 1991; Komar 1998). Menurut Davis (1991) Gelombang dominan terjadi di laut adalah gelombang yang terbentuk sebagai akibat dari asosiasi antara angin dan permukaan laut, secara praktis angin sangat penting bagi pembentukan gelombang di permukaan laut, karena itu dikatakan bahwa gelombang merupakan fungsi dari beberapa faktor yakni kecepatan angin, durasi angin dan jarak tiupan angin pada pantai terbuka (fetch)
Pada pertumbuhan gelombang laut dikenal beberapa istilah seperti :
♦ Fully developed seas,kondisi di mana tinggi gelombang mencapai harga
maksimum (terjadi jika fetch cukup panjang).
♦ Fully limited-condition, pertumbuhan gelombang dibatasi oleh fetch. Dalam
hal ini panjang fetch (panjang daerah pembangkit angin) dapat dibatasi
oleh garis pantai atau dimensi ruang dari medan angin
♦ Duration limited-condition,pertumbuhan gelombang dibatasi oleh lamanya
waktu dari tiupan angin
♦ Sea waves, gelombang yang tumbuh di daerah medan angin. Kondisi gelombang di sini adalah curam yaitu panjang gelombang berkisar antara 10 sampai 20 kali lebih tinggi gelombang.
♦ Swell waves(swell), gelombang yang tumbuh (menjalar) di luar medan
angin. Kondisi gelombang di sini adalah landai yaitu panjang gelombang
berkisar antara 30 sampai 500 kali tinggi gelombang, (Ningsih 2000).

Kemampuan gelombang untuk menyebabkan abrasi dengan beberapa faktor (http//www.vsi.esdm.go.id.), diantaranya :
♦ Kekasaran dari batuan yang tampak pada kemiringan dasar. Hal ini dianggap sebagai faktor kunci dalam mendeterminasi kemampuan erosi termasuk keberadaan batuan sapanjang pantai dengan keberadaan  patahan dan material non-cohasive seperti lanau
(silt) dan pasir haslus (fine sand).
♦ Kemiringan dasar pantai. Pantai membantu meredam atau mengurangi energi gelombang yang bergerak dari offshoredan memberikan ukuran perlindungan dengan kemiringan yang dimiliki terhadap coastal erosion.
♦ Stabilitas pantai atau resistensi pantai. Pengurangan aksi gelombang
dipantai merupakan faktor yang mengontrol kecepatan
cliff recession. Jika pantai menurun dan melebar sangat efektif untuk meredam energi
gelombang, sehingga kekuatan gelombang berkurang saat mencapai
daerah yang biasanya tererosi.
♦ Batimetri yang saling berdekatan energi gelombang yang tiba di pantai dan dapat berpengaruh penting terhadap kecepatan erosi.
♦ Suplai material pantai pada material yang mengalami erosi updrift
datang dari sepanjang cliff, akan membantu menstabilkan pantai. Ukuran ketersedian dapat menjadi pelindung.

5.   Pengertian Abrasi
Abrasi adalah erosi atau pengikisan pantai oleh pengerjaan gelombang laut.  Abrasi adalah erosi atau pengikisan pantai menjadi bergeser ke arah daratan. Artinya, luas daratan secara relatif akan berkurang. Akibatnya, sejumlah bangunan dan prasarana lain yang terdapat di pinggir pantai akan terendam air laut, seolah-olah bergeser ke arah laut, bahkan mungkin saja roboh.

B.  Jawaban Rumusan Masalah

1.  Penyebab Terjadinya Abrasi di Pantai Tirtamaya
Wilayah pesisir Indramayu Jawa Barat dengan panjang garis pantai lebih kurang 114 km merupakan salah satu daerah pantai utara Jawa Barat yang sangat strategis dan berkembang dalam aktivitasnya sebagai daerah penyangga kawasan industri yang mempunyai sumber daya alam dan jalur infrastruktur transportasi  utama Cirebon ke Jakarta. Wilayah ini sebagai kawasan pantai dengan panorama indah dan menarik serta sumber biota laut yang melimpah mempunyai kegiatan ekonomi yang cukup tinggi.     
Pantai Tirtamaya di Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Indramayu termasuk
salah satu obyek wisata yang relatif lebih dikenal masyarakat luas, dibandingkan
obyek wisata pantai lainnya yang ada di Indramayu.  Tetapi keadaan umum pantai
Tirtamaya ini sudah sangat mengkhawatirkan dengan kondisi pantai yang sudah
banyak tercemar baik akibat dari limbah manusia, wisata maupun dari kondisi alam
yang lama kelamaan terjadinya abrasi pantai di Tirtamaya ini.
Pada tahun 1985 kondisi Pantai Tirtamaya jauh sekali dengan kondisi yg
sekarang.

Berdasarkan data yang saya cari dari berbagai sumber, penyebab abrasi di Pantai Tirtamaya antara lain sebagai berikut:
1)  Menurut warga sekitar abrasi ini terjadi salah satunya akibat dari pembangunan proyek UP VI Balongan PT. Pertamina, pada saat pembangunan proyek ini pada tahun 80-an untuk pondasi dasar menggunakan batuan koral dan pasir dari Pulau Gosong yang dikeruk kemudian disedot dan dijadikan pondasi dasar pada proyek tersebut.
2)  Pada tahun 1999 Pantai Tirtamaya menjadi rusak diakibatkan Diurug saat akan di bangun Balongan, sehingga pengurugan tersebut mengakibatkan abrasi pantai hingga saat ini.
3)  Kegiatan pemanfaatan lahan untuk pertambakan dengan cara pembabatan hutan lindung, seperti mangrove, telah memacu abrasi pantai makin intensif terutama hampir di sepanjang pantai perbatasan Jawa Tengah –Jawa Barat sampai daerah pantai Karawang. Pembukaan hutan lindung ini mengakibatkan kondisi pantai menjadi tidak stabil terhadap arus pantai. Kondisi ini tentunya akan merubah aliran arus pantai dan arus ini akan mengikis wilayah yang kurang stabil.  
4)  Sedimentasi yang membentuk tanah timbul mengakibatkan kepemilikan tanah yang tidak legal. Sebaliknya, kerusakan wilayah pantai akibat abrasi pada daerah-daerah yang kurang stabil terhadap erosi  air laut, menyebabkan lahan menjadi kritis sehingga merusak infrastruktur jalan (Pemda Kabupaten Indramayu, 1995).
Proses erosi pantai (abrasi) di daerah Tirtamaya berlangsung cukup kuat, sehingga garis pantai telah mundur jauh dari garis pantai lama dan sudah mendekati jalan raya Juntinyuat, yang pada saat ini bersisa jarak hanya kurang lebih 100 meter dari tepi laut.
5)  Garis pantai Tirtamaya pada umumnya mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan alam seperti adanya aktivitas gelombang, angin, pasang surut dan arus serta sedimentasi daerah delta sungai. Perubahan garis pantai juga terjadi akibat gangguan ekosistem pantai seperti pembuatan tanggul dan kanal serta bangunan-bangunan yang ada di sekitar pantai.
6)  Hutan bakau sebagai penyangga pantai Tirtamaya banyak dirubah fungsinya untuk dijadikan sebagai daerah pertambakan, hunian, dan daerah reklamasi yang mengakibatkan terjadinya perubahan garis pantai.
7)  Daratan dan sedimen pesisir pada dasarnya dinamis bergerak menurut dimensi ruang dan waktu. Gelombang pecah, arus pasang surut, sungai, tumbuhan pesisir dan aktivitas manusia merupakan faktor yang menimbulkan perubahan dinamika pantai untuk membentuk suatu keseimbangan pantai yang baru. Tidak setiap kawasan pesisir dapat merespon  seluruh proses perubahan, tergantung pada beberapa faktor seperti jenis sedimen, morfologi dan kondisi geologi pantainya.
Gejala perubahan garis pantai perlu mendapat perhatian mengingat berdampak besar terhadap kehidupan sosial dan lingkungan. untuk mengetahui kemungkinan pemanfaatan lahan wilayah pesisir Indramayu secara optimal.
2.  Perubahan Garis Pantai
Garis pantai pada umumnya mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan alam seperti adanya aktivitas gelombang, angin, pasang surut dan arus serta sedimentasi daerah delta sungai. Perubahan garis pantai juga terjadi akibat gangguan ekosistim pantai seperti pembuatan tanggul dan kanal serta bangunan-bangunan yang ada di sekitar pantai. Hutan bakau sebagai penyangga pantai banyak dirubah fungsinya untuk dijadikan sebagai daerah pertambakan, hunian, industri dan daerah reklamasi yang mengakibatkan terjadinya perubahan garis pantai.
Perkembangan garis pantai berdasarkan pola sedimentasi di pantai utara Jawa Barat kemungkinan akan menyebabkan terbentuknya  beberapa sumenanjung dan teluk.  Pola sedimentasi mulai dari  Cilamaya Pamanukan sampai dengan Indramayu ditafsirkan berdasarkan data geologi kuarter memperlihatkan adanya pergerakan maju (progradasi) dan abrasi .
Pantai abrasi di wilayah pesisir pada umumnya mempunyai dampak negatif, karena mengakibatkan lahan menjadi berkurang, sedangkan pantai akresi mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak positif, adalah semakin bertambahnya lahan tambak dan lahan pertanian di daerah tersebut. Sedangkan dampak negatif adalah terjadinya pendangkalan alur sungai yang mengakibatkan kapal-kapal nelayan kesulitan untuk memasuki sungai. Pendangkalan juga terjadi di laut yaitu di  sekitar dermaga atau pelabuhan yang dapat mengganggu kegiatan kapal nelayan keluar masuk pelabuhan.

3.     Wilayah Pantai Abrasi
     Peta perubahan garis pantai menunjukkan  adanya kaitan antara faktor alam dan tingkah laku manusia setempat sebagai penyebab terjadinya perubahan garis pantai (abrasi), hal ini  dapat dijelaskan antara lain sebagai berikut :
1.Sifat dataran pantai yang masih muda dan belum seimbang, di pantai Tirtamaya yang diperlihatkan oleh bentuk garis pantai. Kondisi lahan sudah mengalami abrasi  mendekati jalan raya Indramayu - Cirebon sejauh tinggal beberapa puluh meter saja dari badan jalan raya.
2. Pantai wisata Tirtamaya, memiliki kondisi tegak lurus terhadap kedatangan angin dan gelombang laut, sehingga  banyak bangunan pantai yang hilang, juga perlindungan pantai yang ada juga sudah mulai terkikis air laut.
3.Kehilangan perlindungan pantai, yaitu hutan bakau yang hilang oleh  terpaan gelombang.
4.Pendangkalan sungai yang mengakibatkan kapal-kapal nelayan mengalami kesulitan untuk keluar masuk sungai. Penataan DAS di daerah hulu dengan pemanfaatan lahan tidak ditata dengan baik akan mengakibatkan pendangkalan di daerah hilir.
5.Perusakan perlindungan pantai alami akibat penebangan pohon bakau untuk pembukaan lahan baru  sebagai kawasan pertambakan ikan/udang. Pembukaan lahan ini dilakukan karena tuntutan pengembangan usaha dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup manusia.
6.Perubahan keseimbangan transportasi sedimen sejajar pantai akibat pembuatan perlindungan pantai, seperti pembuatan jetty, pemecah gelombang, pembangunan pelabuhan di kawasan industri perminyakan Balongan, dengan melalui kegiatan reklamasi pantai.

4.  Penggunaan Lahan Pantai Abrasi
Secara rinci daerah penggunaan lahan wilayah pesisir pantai Indramayu mempunyai sifat-sifat lahan sebagai berikut :
1.Lahan hutan bakau/konservasi, bersifat kultural untuk perlindungan dan pelestarian alam
2.Lahan industri termasuk pertambakan ikan dan udang, karena sifat permukaan yang datar serta posisi geografi memberikan kemudahan bagi pengembangan industri. Transportasi barang dan orang melalui air (laut dan sungai) dapat menekan biaya produksi.
3.Lahan pemukiman, karena perkembangan industri, perdagangan, pertanian dan kegiatan lainnya akan menarik manusia untuk tinggal menetap dan mencari nafkah.
4.Lahan pertanian, endapan dataran banjir yang menutupinya merupakan endapan yang subur untuk dimanfaatkan sebagai tanah pertanian.
5.Lahan wisata, sehubungan dengan keindahan alam pantai dan kebutuhan rohani manusia.
6.Lahan untuk kebutuhan infrastruktur, sebagai akibat pembangunan dan pengembangan wilayah pesisir.

F. Pencegahan Terhadap Meluasnya Abrasi  Di Pantai Tirtamaya
1) Memperkuat Pertahanan Pantai
Alam pada umumnya telah menyediakan mekanisme perlindungan pantai, terumbu karang dan hutan pantai dapat berfungsi sebagai tembok pantai. Sedangkan tumbuhan pantai memperlambat gerakan gelombang laut dan memacu pertumbuhan pantai. Gerakan air yang lambat diantara akar-akar tumbuhan dapat mendukung proses pengendapan dan merupakan tempat dan merupakan tempat yang baik untuk berkembangbiaknya biota khas laut.
Selain melakukan perbaikan geometris pantai dan perlindungan terhadap pantai secara konvensional, dapat pula dilakukan dengan teknik-teknik perencanaan bangunan pantai secara modern dengan cepat dan biaya murah anatara lain dengan pembuatan tanggul, membuat perlindungan pada bagian dalam pematang pantai dengan sistem pengocoran serta pemancangan tulang vertikal pada garis pantai.

2)    Pengamanan Pantai
Pada daerah-daerah yang sangat rawan kerusakan lingkungan pantai, dimana tidak memungkinkan dilakukan teknik memperkuat pertahanan pantai secara alamiah dan konvensional, dapat pula dilakukan dengan langkah-langkah pengamanan sebagai berikut:
(1)  Mengubah laju angkutan sedimen sejajar garis pantai
(2)  Mengurangi energi gelombang yang mengenai pantai dengan bangunan pemecah gelombang.
(3)  Memperkuat tebing pantai sehingga tahan terhadap gempuran gelombang.
(4)  Menambah suplai sedimen ke pantai (Sand by Passing). Dan
(5)  Melakukan penghijauan pantai.
Kelima cara tersebut dapat dilakukan dengan satu sistem yang disebut groin, yaitu suatu sistem pengendalian gelombang yang berfungsi sebagai pemecah gelomabang sekaligus sebagai penjebak gerakan sedimen. Sedimen yang terjebak akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan garis pantai secara periodik.
3)    Perlindungan Pantai
Sistem perlindungan pantai merupakan salah satu alternatif mencegah kerusakan pantai baik dalam sekala kecil maupun dalam sekala besar, yaitu penghijauan perairan pantai dengan huatn bakau dan tanaman keras di sekitar pantai. Sistem bertujuan untuk melindungi pantai dari gempuran gelombang laut. Gelombang yang datang akan pecah sebelum mencapai pantai. Disamping itu sedimen yang terbawa gelombang laut akan terjebak diantara akar-akar dan batang-batang bakau. Sistem ini dipandang lebih ekonomis. Hutan bakau dapat berfungsi ganda, selain sebagai pelindung pantai juga sebagai tempat hidup habitat laut, seperti berbagai jenis ikan dan reptil serta jenis burung-burung laut.
Disamping itu pemeritah Kabupaten Indramayu perlu menetapkan daerah-daerah kritis dan rawan terhadap bencana alam geologi, seperti abrasi, longsoran pantai dan dasar laut serta gelombang pasang. Kegiatan tersebut meliputi inventarisasi daerah bahaya dan rawan terhadap bencana alam geologi. Pada daerah-daerah bahaya dan rawan seyogyanya penduduk dilarang memanfaatkan lahan lingkungan pantai untuk perluasan pemukiman, pertanian dan pertambangan.



















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Pada umumnya Pantai Tirtamaya 10 tahun terakhir ini memperlihtkan gejala terjadinya beberapa gangguan. Gangguan tersebut yang umumnya disebabkan  oleh faktor alam dan kegiatan manusia. Faktor alam seperti gelombang dan dan pergeseran garis pantai.  Sedangkan pengaruh kegiatan manusia, seperti  pertambakan ikan reklamasi untuk pemukiman, pelabuhan dan industri serta eksploitasi hutan pelindung pantai. Masalah abrasi sulit diatasi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungannya, untuk wilayah Pantai Tirtamaya, Kecamatan Juntinyuat laju abrasi pantai antara 2 -3 m/tahun. Dampak yang diakibatkan oleh abrasi pantai dapat menyebabkan garis pantai semakin menyempit dan apabila tidak segera di atasi maka lama-kelamaan daerah yang permukaannya rendah akan tenggelam dan memutuskan jalur transportasi darat  sepanjang daerah pesisir. Untuk mencegah meluasnya abrasi tersebut maka dapat dilakukan dengan cara melindungi terumbu karang, sistem pengendalian grogin,dan penanaman hutan bakau.

B.  Saran
 Secara keseluruhan Pemerintah diharapkan dapat mewujudkan Rencana Tata Ruang keterkaitan antar kegiatan dengan memanfaatkan ruang dalam kurun waktu 10 tahun mendatang yang terdiri dari Kawasan Lindung dan Kawasan budidaya. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan untuk pembangunan berkelanjutan. Sedangkan kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama membudidayakan berdasarkan keadaan dan potensi sumberdaya alam dan manusia.  Kawasan budidaya  meliputi Kawasan pertanian, Kawasan hutan produksi, Kawasan pemukiman, Kawasan Industri dan Kawasan wisata.
Masyarakat harus mengambil peran dalam mengatasi masalah abrasi dan pencemaran pantai, karena usaha dari pemerintah saja tidak cukup berarti tanpa bantuan dari masyarakat.Ini termasuk penanaman dan pemeliharaan vegetasi pelindung pantai, seperti mangrove dan terumbu karang.












DAFTAR PUSTAKA

Arief, Arifin. 2003. Hutan Mangroove Fungsi & Manfaatnya. Yogyakarta: Kanisius.
Supriatna, Nana dkk. 2006. IPS Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah. Jakarta: Grafindo

Kalay, Degen Erasmus. 2008. Perubahan Garis Pantai di Sepanjang Pesisir Pantai Indramayu. Tesis, Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Barat dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor, 2000,  Atlas Wilayah Pesisir Jawa Barat Bagian Utara, tidak diterbitkan
Budiono.K, Hardjawidjaksan dkk. 1987, Laporan Penyelidikan Geologi dan Geofisika Marin Daerah Perairan Indramayu dan Sekitarnya, Laporan hasil penelitian Pusat Pengembangan Geologi Kelautan Bandung, tidak diterbitkan.


Darlan. Y, Kamiludin dkk. 2002. Kajian penanggulangan proses erosi pantai Tirtamaya dan sekitarnya, kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Laporan hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Bandung. tidak diterbitkan.
Usman, Ediar dkk. 1996. Krisis Pantai Utara Jawa Timur. Bandung: Departemen Pertambangan dan Energi Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber daya Mineral Pusat Pengembangan Geologi Kelautan Bandung.
Muhammad Ardiannur. (2012).. Pantai Tirtamaya yang Terabrasi. [Online]. Tersedia: http://muhammadardiannur.wordpress.com/tag/abrasi/


 Untuk File Word Nya Silakan Broo di sedot di Makalah abrasi pantai

Comments

Popular posts from this blog

Kegiatan Hari Bakti Desa oleh TPP Kabupaten Aceh Jaya dalam rangka memperingati Hari Desa 15 januari 2026

Cara Mempercepat Koneksi Internet